HIPPI Simalungun Soroti Ketimpangan PTN di Sumut: Desak Negara Bangun Kampus Negeri di Siantar-Simalungun
- account_circle infokitaid
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 26

Arifin Sihombing, Ketua HIPPI Kabupaten Simalungun.(Hegi)
SIMALUNGUN (infokita.co) – Ketimpangan penyebaran Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Sumatera Utara (Sumut) memicu sorotan tajam. Dari 33 kabupaten/kota yang ada di Sumut, keberadaan PTN hingga kini masih menumpuk di Kota Medan. Kondisi tersebut dinilai tidak adil serta menghambat pemerataan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pembangunan daerah.
Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Simalungun, Arifin Sihombing, menegaskan bahwa sudah saatnya negara hadir secara adil dengan membangun PTN di wilayah tengah Sumut, khususnya kawasan Siantar-Simalungun.
“Jika kita melihat provinsi tetangga seperti Aceh, kampus negeri tersebar merata di berbagai daerah dan kabupaten. Sementara di Sumatera Utara, tumpuannya masih selalu di Medan,” tegas Arifin, Rabu (28/10/2026).
Keunggulan Geografis dan Historis
Menurut Arifin, Pematangsiantar memiliki posisi yang sangat strategis sebagai jantung Sumatera Utara sekaligus penyangga bagi kabupaten/kota di sekitarnya. Secara historis, Siantar juga memiliki rekam jejak penting karena pernah menjadi ibu kota kawasan Sumatera Timur pada masa revolusi.
Ia menampik anggapan klasik mengenai keterbatasan lahan untuk pembangunan kampus negeri. Menurutnya, Siantar dan Simalungun memiliki potensi wilayah yang sangat luas dan siap dikembangkan.
“Lahan kita sangat luas, contohnya di Siantar ada kawasan Tanjung Pinggir. Persoalannya saat ini adalah kemauan pemerintah untuk mengeksekusi. Membangun daerah tidak bisa asal-asalan, harus ada master plan yang matang, berbasis penelitian, dan melibatkan penyelenggara negara yang fokus,” jelasnya.
Pendorong Ekonomi dan Integrasi Layanan
Arifin menilai kunci utama kemajuan suatu daerah terletak pada kualitas SDM. Meskipun Siantar dan Simalungun telah memiliki kuantitas serta kualitas sekolah menengah atas (SMA) yang memadai, tanpa hadirnya PTN, rantai pengembangan potensi generasi muda lokal berisiko terputus.
“Jika PTN berdiri di Siantar-Simalungun, pelajar dari daerah lain bahkan dari luar provinsi akan datang untuk menuntut ilmu. Kehadiran mahasiswa ini secara otomatis menjadi sarana promosi daerah sekaligus menggerakkan perekonomian lokal,” tambahnya.
Lebih lanjut, HIPPI Simalungun mendorong terciptanya konsep integrasi antara sektor pendidikan dan kesehatan. Apabila kawasan Siantar-Simalungun berhasil ditetapkan sebagai kota pendidikan dan pusat layanan kesehatan, status wilayah yang selama ini dominan sebagai “kota transit” dapat bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatera Utara.
“Jika Siantar dan Simalungun bertransformasi menjadi kota pendidikan dan kesehatan, SDM berkembang pesat, roda ekonomi bergerak, dan peradaban daerah akan melonjak signifikan,” pungkas Arifin.
Reporter: Hegi
Editor: Iwan
- Penulis: infokitaid
