Sentuhan Inovasi di Parapat: Perajin Kriya Simalungun Siap Tembus Pasar Nasional
- account_circle infokitaid
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 43

Workshop Aktivasi Creative Hub Kemen Ekraf Kabupaten Simalungun.(Hegi)
SIMALUNGUN (infokita.co) – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) resmi mengaktivasi Creative Hub Kabupaten Simalungun melalui gelaran Workshop Kriya bertema “Inovasi Desain dan Nilai Tambah Produk”. Kegiatan strategis ini berlangsung selama dua hari pada 28–29 Oktober 2026 di Wisma Tabor, Parapat.
Acara pembukaan dihadiri oleh Direktur Kriya Kemen Ekraf Neli Yana, jajaran Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf), serta diikuti oleh lebih dari 50 pelaku kriya lokal.
Menjaga Tradisi Sekaligus Menjawab Tantangan Pasar Modern
Kehadiran Creative Hub di kawasan Danau Toba ini dirancang sebagai wadah kolaborasi, inkubasi ide, dan peningkatan kapasitas bagi pelaku ekonomi kreatif, khususnya subsektor kriya.
Kepala Disperindag Kabupaten Simalungun, Eva Suryati Ulyarta, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya inisiatif tersebut. Menurutnya, Simalungun memiliki kekayaan warisan budaya, motif tekstil tradisional, hingga kerajinan berbahan alam yang luar biasa. Kendati demikian, potensi tersebut harus diiringi dengan kemampuan adaptasi desain yang relevan dengan tren masa kini.
“Dalam ekonomi kreatif, nilai simbolik sering kali menjadi pembeda yang meningkatkan kesediaan konsumen untuk membayar lebih. Inovasi desain bukanlah meninggalkan identitas tradisional, melainkan kemampuan untuk membaca perubahan tanpa kehilangan jati diri,” tegas Eva.
Eva juga menyoroti pentingnya aspek keberlanjutan (sustainability) pascapelatihan maupun pemberian bantuan alat. Ia berharap sinergi ini mampu memastikan para perajin dapat terus produktif dan mandiri secara ekonomi.
Targetkan Produk Lokal Menembus Panggung Nasional
Direktur Kriya Kemen Ekraf, Neli Yana, menegaskan bahwa para perajin di Simalungun harus memiliki wawasan luas agar karya mereka tidak hanya menjadi suvenir lokal, tetapi juga mampu dibeli oleh wisatawan, diproduksi dalam skala besar, hingga menembus pameran internasional.
“Dari 50 pelaku kriya yang mengikuti pembinaan ini, saya menargetkan minimal 25 produk dapat sukses menembus pasar nasional,” ungkap Neli penuh optimisme.
Sementara itu, Founder of Tashmiim Furniture & Crafts sekaligus narasumber workshop, Sugeng Untung, memaparkan formula utama dalam menciptakan produk yang tepat sasaran atau good product. Menurutnya, perajin harus mengandalkan tiga pilar utama: Good Image, Good Design, dan Good Quality.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua HIPPI Simalungun, Suherman, menambahkan bahwa para perajin perlu memperhatikan nilai tambah produk—seperti unsur seni, cerita budaya, kenyamanan, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi—serta menerapkan strategi pemasaran yang terencana.
Melalui aktivasi Creative Hub ini, para perajin lokal seperti Devi Sitanggang dan Lidia Sidabutar mengaku mendapatkan wawasan baru yang segar untuk meningkatkan daya saing, memperluas jejaring, dan menaikkan nilai jual produk kriya khas Simalungun ke kancah yang lebih luas.
Reporter: Hegi
Editor: Iwan
- Penulis: infokitaid
