Menggapai Cita di Guangzhou: Cerita Daniel dari Dairi
- account_circle infokitaid
- calendar_month Ming, 11 Okt 2026
- visibility 87

Daniel Fransiskus Simarmata, mahasiswa di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC), China.(ist)
GUANGZHOU, infokita.co — Pukul 06.00 waktu setempat, geliat aktivitas mulai terasa di salah satu asrama mahasiswa di Guangzhou, China. Di tengah riuk-pikuk kota industri dan kesibukan lingkungan kampus, Daniel Fransiskus Simarmata bersama lima mahasiswa asal Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, bersiap memulai rutinitas harian di negeri orang.
Daniel merupakan penerima program Beasiswa PT Dairi Prima Mineral (DPM) angkatan ketiga. Lewat program tersebut, ia mendapat kesempatan berharga untuk melanjutkan pendidikan vokasi di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC), China.
Berada jauh dari kampung halaman di Dairi menuntut Daniel dan rekan-rekannya untuk beradaptasi dengan gaya hidup mandiri. Mulai dari mengatur jadwal harian, mengelola uang saku, mengurus kebutuhan pribadi, hingga menyelesaikan target tugas-tugas akademik.
“Di Guangzhou, saya biasanya bangun di asrama, mandi, lalu mempersiapkan diri untuk kelas. Jika di Indonesia biasa sarapan di rumah, di China kami langsung berjalan kaki ke ruang kelas karena lokasi asrama masih berada di dalam lingkungan kampus,” ujar Daniel.
Ia menuturkan, salah satu hal yang paling menarik perhatiannya saat awal tiba di Guangzhou adalah perbedaan kultur budaya serta pesatnya digitalisasi masyarakat setempat, terutama sistem pembayaran yang hampir seluruhnya dilakukan secara nontunai (online).
Menyelami Teknologi Manufaktur dan Kedisiplinan Tinggi
Di GDPIC, perkuliahan dimulai tepat pukul 08.00 waktu setempat. Daniel memilih jurusan Machinery Manufacturing and Automation. Jurusan ini tidak hanya membekalinya dengan teori, tetapi juga pengalaman praktik langsung terkait pemeliharaan mesin, otomasi, dan proses manufaktur modern.
Selama mengenyam pendidikan di China, Daniel mengaku sangat terkesan dengan budaya kedisiplinan dan manajemen waktu yang diterapkan di lingkungan pendidikan maupun industri.
“Semua serba tepat waktu. Waktu libur juga relatif lebih sedikit dibanding di Indonesia. Bahkan ada hari Minggu yang digunakan sebagai hari belajar untuk mengganti hari libur nasional sebelumnya,” ungkapnya.
Selain kedisiplinan, penguasaan bahasa Mandarin menjadi tantangan utama yang harus dihadapinya sehari-hari, baik untuk kebutuhan akademik maupun interaksi sosial.
Daniel membagikan pengalaman uniknya saat pertama kali tiba di kampus. Ketika seorang warga lokal bertanya arah jalan kepadanya dalam bahasa Mandarin, ia hanya bisa terdiam karena belum paham. Pengalaman tersebut menjadi pemicu motivasinya untuk belajar bahasa Mandarin secara konsisten setiap hari.
Kerinduan Rumah dan Tekad Membangun Daerah
Jarak ribuan kilometer dari kampung halaman kerap menghadirkan rasa rindu akan masakan rumah dan kehangatan keluarga.
“Kami selalu rindu masakan rumah, terutama masakan mama. Saya kangen semua masakan mamak, khususnya ayam goreng bumbu,” tuturnya.
Di sela padatnya aktivitas akademik, Daniel dan mahasiswa asal Indonesia lainnya kerap meluangkan waktu berkumpul bersama mahasiswa lokal pada malam hari. Mereka menghabiskan waktu dengan makan malam bersama, bernyanyi, atau sekadar berdiskusi untuk melepaskan penat sebelum kembali fokus mengerjakan tugas perkuliahan.
Komunikasi rutin dengan keluarga di Dairi juga menjadi penawar rindu yang sangat berharga baginya.
“Ada rasa rindu karena jaraknya jauh dan sedih tidak bertemu selama tiga tahun. Namun di sisi lain, saya senang masih bisa berkomunikasi dan menceritakan berbagai pengalaman baru di China,” kata Daniel.
Bagi Daniel, kesempatan belajar di luar negeri bukan sekadar mengejar gelar diploma. Ia bertekad menyerap ilmu teknologi manufaktur dan menguasai bahasa Mandarin agar siap berkontribusi secara profesional di dunia kerja.
“Saya berharap bisa memaksimalkan segala hal yang dipelajari di sini, baik ilmu jurusan maupun kemampuan berbahasa Mandarin. Semoga kelak saya bisa bekerja di perusahaan pertambangan dengan membawa pengalaman dari China,” harapnya.
Adapun Program Beasiswa PT DPM telah berjalan sejak tahun 2019 sebagai bagian dari komitmen pengembangan masyarakat (Corporate Social Responsibility) perusahaan. Bagi Daniel dan para mahasiswa asal Dairi, program ini menjadi jembatan untuk menguasai teknologi modern, memahami budaya internasional, serta membawa pulang ilmu bermanfaat demi masa depan yang lebih baik.
Reporter: Iwan
Editor: Gib
- Penulis: infokitaid
