Diplomasi Koin Tiga Ratus Rupiah: Solusi Bupati Dairi Cairkan Ketegangan Iuran Pedagang Pasar Sidikalang
- account_circle infokitaid
- calendar_month Rab, 16 Sep 2026
- visibility 213

Pertemuan pedagang pasar Sidikalang bersama Bupati Dairi pada Jumat (11/09/2026).(ist
DAIRI, infokita.co – Ketegangan antara ratusan pedagang Pasar Sidikalang dan pihak pengelola pasar terkait kenaikan Iuran Pengelolaan Pasar (ILP) akhirnya berbuah manis. Berawal dari protes hingga aksi demonstrasi selama sepekan, perselisihan tersebut berakhir damai setelah Bupati Dairi turun tangan langsung memfasilitasi dialog di Pendopo Kediaman Bupati pada Jumat (11/9/2026).
Sebelumnya, para pedagang keberatan atas penyesuaian tarif iuran pasca-pandemi yang dinilai terlalu membebankan. Tarif awal dari Rp800 ribu per tahun direncanakan naik hingga Rp2 juta per tahun mengikuti aturan baku. Bagi sekitar 400 pedagang, angka tersebut terlampau berat di tengah lesunya perekonomian serta gempuran persaingan toko online dan ritel modern.
Kebuntuan mediasi yang sempat berlangsung seminggu—bahkan diwarnai negosiasi yang memanas—akhirnya terurai saat Bupati Dairi mengajak perwakilan pedagang duduk bersama dan berdiskusi secara kekeluargaan.
Strategi Efisiensi dan Analisis Psikologis
Sebelum bertemu perwakilan pedagang, langkah efisiensi internal terlebih dahulu ditekankan kepada jajaran Direksi Perumda Pasar. Dari perhitungan cermat, Perumda Pasar dipastikan tetap mampu menjaga performa keuangannya jika kenaikan iuran ditekan menjadi Rp300 ribu per tahun, bukan Rp1 jutaan seperti rencana semula.
Dalam pertemuan tersebut, suasana emosional terbangun ketika ingatan masa lalu dibagikan—tentang kenangan ikut membantu orang tua berjualan di Pasar Sidikalang. Pendekatan personal ini membuka ruang dialog yang lebih terbuka antara pemerintah dan warga.
Simbolisme Tiga Koin dan Kultural Dalihan Na Tolu
Momen krusial penyelesaian konflik terjadi saat Bupati menunjukkan tiga keping koin Rp100 di hadapan para pedagang. Penjelasan sederhana diberikan bahwa selisih antara penawaran pedagang (naik Rp200 ribu/tahun) dengan usulan pemerintah (naik Rp300 ribu/tahun) sebenarnya hanya sebesar Rp100 ribu per tahun, atau setara dengan Rp300 per hari.
Angka “tiga” tersebut juga dikaitkan dengan nilai kearifan lokal masyarakat Dairi, yaitu falsafah Dalihan Na Tolu (Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru), yang mengajarkan pentingnya saling menghargai, bersikap cermat, dan mengayomi.
Selain menyepakati besaran iuran, pemerintah daerah bersama perwakilan pedagang juga berkomitmen membentuk tim pengawasan bersama guna memantau kinerja Perumda Pasar dan merumuskan langkah nyata meramaikan kembali aktivitas jual beli di Pasar Sidikalang.
Sepakat Damai dan Saling Memaafkan
Hanya dalam waktu sepuluh menit diskusi internal, seluruh perwakilan pedagang secara bulat menyatakan sepakat atas solusi tersebut. Pertemuan ditutup dengan suasana haru dan saling memaafkan atas ketegangan yang sempat terjadi beberapa hari sebelumnya.
“Tujuan kita sama, berada dalam kapal yang sama untuk membawa daerah Dairi dan warganya sejahtera,” tegas Bupati di akhir pertemuan.
Apresiasi dan ucapan terima kasih pun mengalir deras dari ratusan pedagang serta komunitas pasar atas hadirnya solusi yang adil, bijaksana, dan menyejukkan bagi semua pihak.
Reporter: Iwan
Editor: Gib
- Penulis: infokitaid
