Harmoni Tradisi dan Cinta Kasih: Peringatan Hari Anak Nasional di Pematangsiantar Dimeriahkan Lomba Urdou-urdou
- account_circle infokitaid
- calendar_month Sen, 27 Jul 2026
- visibility 62

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 Pemerintah Kota Pematang Siantar.(ist)
SIANTAR, infokita.co — Suasana Lapangan Adam Malik pada Senin (27/7/2026) tampak hangat dan penuh warna. Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar bersama Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yang didukung Tanoto Foundation menggelar peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026. Perayaan kali ini terasa istimewa dengan hadirnya Lomba Urdou-urdou, sebuah tradisi lisan khas Simalungun.
Lomba yang mengusung tema “Membangun Hubungan Emosional Anak dengan Orang Tua melalui Urdou-urdou” ini diikuti oleh 54 peserta perwakilan dari seluruh kelurahan di Kota Pematangsiantar.
Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, S.H., M.Kn., yang hadir mengenakan pakaian adat Gotong Parhorja, menegaskan bahwa Urdou-urdou bukan sekadar lagu pengantar tidur biasa. Menurutnya, tradisi lisan ini menyimpan nilai pengasuhan (parenting) yang sangat mendalam.
“Urdou-urdou adalah bentuk kasih sayang tulus orang tua kepada anak. Tradisi ini memperkuat ikatan batin, memberi rasa aman, sekaligus menjadi media stimulasi perkembangan bahasa, emosi, dan karakter anak sejak usia dini,” ujar Wesly dalam sambutannya.
Sejalan dengan tema peringatan tingkat kota, “Merawat Tradisi Simalungun, Mengasuh Sepenuh Hati”, Pemko Pematangsiantar berkomitmen melestarikan nilai budaya lokal sekaligus memenuhi hak-hak anak demi menyongsong Generasi Emas 2045.
Dukungan terhadap pelestarian tradisi ini juga ditegaskan oleh Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar, Ny. Liswati Wesly Silalahi, yang tampil anggun mengenakan Bulang Sulappei. Ia menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan wadah untuk mempererat cinta kasih tanpa syarat antara orang tua dan anak.
Sementara itu, perwakilan dari Tanoto Foundation menyoroti pentingnya mengembalikan fokus pengasuhan ke dalam lingkungan keluarga di tengah era digital. Melalui tradisi Urdou-urdou, orang tua diajak untuk:
Hadir secara fisik dan emosional: Mendampingi, mendengarkan, dan berinteraksi langsung dengan anak.
Membatasi gawai (screen time): Mengalihkan perhatian anak ke permainan dan tradisi lisan lokal yang melatih motorik serta sensorik.
Menggabungkan kearifan lokal dengan ilmu pengasuhan modern.
Penilaian lomba dilakukan secara objektif oleh dewan juri ahli di bidang seni dan budaya Simalungun, yaitu Hotman Damanik (budayawan dan arsitek Monumen Sangnaualuh Damanik), Mannes Purba (komposer), dan Jayamin Sipayung (budayawan).
Sebagai simbol apresiasi dan komitmen terhadap pelestarian seni daerah, para budayawan Simalungun menyerahkan cenderamata berupa alat musik tradisional Sarunei kepada Wali Kota Pematangsiantar.
Acara ini turut dihadiri oleh Sekda Kota Pematangsiantar Junaedi Antonius Sitanggang, S.S.T.P., M.Si., jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, para camat, lurah, serta masyarakat yang antusias menyaksikan jalannya perlombaan.
Reporter: Son
Editor: Gib
- Penulis: infokitaid
