Selembar Hasil Lab vs Paru-Paru Warga: Asap Hitam PT SSU Masih Hantui Tomuan Siantar
- account_circle infokitaid
- calendar_month Kam, 13 Agu 2026
- visibility 47

Kondisi limbah asap pabrik PT SSU, dekat pemukiman warga Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur, kota Pematangsiantar.(Hegi)
SIANTAR, infokita.co – Meski Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar mengklaim limbah udara PT Sintong Sari Union (SSU) memenuhi standar baku mutu, ratusan warga Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur, terus mengeluhkan ancaman kesehatan akibat cerobong pabrik yang tak berhenti mengepulkan asap hitam.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pematangsiantar, Arri Sembiring, menyatakan bahwa pengujian baku mutu cerobong boiler PT SSU telah dilakukan oleh laboratorium resmi dari Medan. Hasil uji tersebut dirujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2007.
“Pengujian baku mutu terhadap emisi yang dilepaskan ke udara sudah dilakukan, dan kami telah menerima laporan resminya,” ujar Arri, Kamis (13/8/2026).
Menanggapi gejolak di masyarakat, DLH mengaku telah berkoordinasi dengan Camat Siantar Timur, Masa Rahmat Zebua. Pihaknya berencana meneruskan aspirasi warga kepada Wali Kota atau Sekretaris Daerah untuk memfasilitasi rapat lintas sektor.
“Rapat koordinasi ini akan melibatkan Satpol PP, Dinas Kesehatan, DLH, Camat, Puskesmas, hingga Lurah untuk menindaklanjuti keberatan masyarakat,” tambah Arri.
Meskipun instansi terkait mengantongi hasil uji di atas kertas, kondisi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Pantauan jurnalis Infokita.co di lokasi mendapati cerobong pabrik PT SSU di Kelurahan Tomuan masih terus memuntahkan asap hitam pekat secara intensif—baik pagi, sore, maupun malam hari.
Sebanyak 120 warga Tomuan yang terdampak telah menyuarakan penolakan secara resmi melalui surat keberatan yang dikirimkan kepada Wali Kota, DPRD, DLH, dan Dinas Kesehatan. Warga menorehkan fakta bahwa jelaga hitam telah masuk ke dalam rumah, mengotori jemuran, serta memicu gangguan pernapasan, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Warga mempertanyakan relevansi pengujian laboratorium yang berjarak dari realitas pemukiman. Uji baku mutu di mulut cerobong dinilai tidak mencerminkan kualitas udara riil yang dihirup masyarakat setiap hari.
“Setiap malam bau mesiu sangat menyengat, jelaga menempel di baju yang dijemur, dan anak-anak mulai sering sesak napas,” ungkap salah seorang warga pemukiman sekitar pabrik.
Warga menegaskan bahwa aksi protes ini bukan bertujuan untuk menutup kegiatan operasional pabrik, melainkan menuntut pemenuhan hak dasar atas lingkungan hidup dan udara yang bersih.
“Sampai kapan Pemko Siantar berpatokan pada selembar kertas hasil lab, sementara asap hitam pekat masih terus mengepul di atas rumah kami?” tegasnya.
Reporter: Hegi
Editor: Iwan
- Penulis: infokitaid
