Ritual Sakral Mangalahat Horbo: Simbol Syukur dan Perekat Persatuan di Samosir
- account_circle infokitaid
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 40

Ritual sakral Mangalahat Horbo.(ist)
infokita.co, SAMOSIR – Gemuruh suara Gondang Sabangunan dan derap langkah Pannortor memecah keheningan di Desa Salaon Tongatonga, Kecamatan Ronggur Nihuta. Hari kedua perhelatan adat Mangase Taon di Bius Salaon memuncak dengan digelarnya ritual sakral Mangalahat Horbo, sebuah tradisi leluhur Batak yang sarat akan makna spiritual dan kearifan lokal, Sabtu (11/4/2026).
Ritual ini bukan sekadar seremoni, melainkan persembahan kerbau pilihan sebagai bentuk syukur atas keberkahan setahun lalu sekaligus doa agar tahun mendatang membawa kemakmuran bagi masyarakat setempat.
Prosesi dimulai dengan penuh khidmat melalui tahapan mangakarihiri, panakkok pargocci, hingga manogu lahatan. Kerbau sebagai kurban utama ditambatkan pada tiang borotan yang dihiasi ornamen khas Batak.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah saat rombongan pakkarihiri menggiring kerbau menuju tempat tambatan. Sesuai pakem adat, prosesi harus diakhiri dengan langkah kanan. Masyarakat percaya bahwa langkah kanan adalah simbol keberuntungan, kesuksesan, dan pintu pembuka berkah bagi seluruh daerah.
Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, hadir langsung didampingi Sekdakab Marudut Tua Sitinjak beserta jajaran pimpinan OPD. Dalam sambutannya, Wakil Bupati menekankan bahwa Mangase Taon adalah momentum untuk memperkuat persatuan di atas perbedaan.
“Inilah hikmah dari kegiatan ini; bagaimana perbedaan dapat disatukan dan persoalan diselesaikan dengan damai melalui jalan adat. Dengan kebersamaan, Samosir akan semakin maju dan kuat,” ujar Ariston.
Ia juga menambahkan bahwa integrasi nilai adat dan spiritual merupakan modal kuat dalam mempromosikan pariwisata Samosir, khususnya sebagai jantung destinasi Danau Toba.
Senada dengan Wakil Bupati, Asisten II Hotraja Sitanggang berharap nilai Dalihan Natolu tetap menjadi fondasi kehidupan sosial. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong tokoh adat menjadi mitra dalam penyelesaian masalah melalui pendekatan kearifan lokal atau restorative justice.
Ketua Lembaga Adat dan Budaya (LAB), Pantas M. Sinaga, memberikan apresiasi tinggi atas dukungan pemerintah daerah. Sebagai bentuk kehormatan, Raja Bius Salaon bersama LAB memberikan ulos kepada Wakil Bupati Samosir dalam prosesi mangulosi.
Bagi warga setempat, seperti Esman Simbolon, kehadiran pemerintah memberikan rasa bangga sekaligus pengakuan terhadap identitas mereka.
“Kami semakin memahami dan mencintai tradisi leluhur. Ini penting agar anak cucu kami nantinya tidak kehilangan jati diri sebagai orang Batak,” ungkapnya.
Perhelatan Mangase Taon tahun ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, masyarakat Samosir tetap teguh menjaga warisan leluhur sebagai identitas yang tak lekang oleh waktu.(one)
- Penulis: infokitaid
